Sulitnya Menghabisi Genk Solo. Oleh : Pepih Nugraha

ARTIKEL • 03 Oct 2026 08:47 • Admin NA
Sulitnya Menghabisi Genk Solo. Oleh : Pepih Nugraha

nataragung.id - Bandung - Teman Fesbuk saya, Maman Ali Haedar memberi judul postingannya dengan kalimat tanya, "Genk Solo Dihabisi?" Saya terinspirasi dengan tulisannya dan memberi judul faktual, "Sulitnya Menghabisi Genk Solo". Faktanya begitu, kan?

Mari kita bahas...

Sudah menjadi rahasia umum analisis politik yang terbaca pelan-pelan seturut angin Oktober yang berembus, bahwa Genk Solo sedang dihabisi. Nomenklatur "Genk Solo" diterakan oleh para pembencinya yang seperti kehilangan akal bagaimana cara menghabisi Jokowi dan keluarganya.

Kata "Genk" sendiri murujuk pada komplotan kriminal, sementara "Solo" merujuk pada Jokowi dan keluarganya berasal. Coba lihat "pelecehan" para pembenci yang mereduksi seolah-olah Solo yang besar dan bermartabat itu hanya pada Jokowi!

Cerita sebagai ketua Genk, Jokowi punya kaki-tangan atau sebutlah orang-orang dekat yang mengelilinginya, khususnya saat Jokowi berkuasa. Sialnya, para pembenci itu melihat orang-orang dekat itu masih berada di seputaran Jokowi, menjaga Jokowi. Entah cuma ilusi atau benar adanya, tetapi begitulah narasi yang tercipta.

Lihat saja. Kapolri diganti. Menko PMK diganti. Kepala Staf Kepresidenan diganti. Dan ketiga orang pemegang jabatan di Presiden Prabowo ini dianggap sebagai Genk Solo itu. Lalu Gibran dihajar habis-habisan di Mahkamah Konstitusi.

Dan yang paling menarik, partai-partai koalisi seperti kehilangan suara ketika Wakil Presiden itu sedang menjadi sasaran kritik. Kesimpulannya pun segera dibuat: inilah senjakalaning Genk Solo. Wah, wah... Para pembenci menciptakan istilah Genk Solo tapi mereka jugalah yang membunuhnya.

Kalau politik memang sesederhana itu, mungkin membaca reshuffle kabinet cukup dengan kalkulator dan sedikit ilmu cocokologi, karena ilmu inilah yang menjadi keterampilan mereka. Padahal kalau kita lihat dengan kepala yang agak dingin, ceritanya tidak sesederhana itu.

Listyo Sigit memang tidak lagi menjadi Kapolri. Tetapi setelah lima tahun lebih memimpin Polri, ia tidak pulang membawa kardus dari Istana. Ia justru masuk ke Kantor Staf Presiden sebagai KSP.

Dudung Abdurachman memang meninggalkan KSP. Tetapi ia bukan menghilang dari orbit kekuasaan. Ia justru naik menjadi Menko Politik dan Keamanan.

Pratikno memang tidak lagi menjadi Menko PMK. Tetapi pada 2 Oktober ia dilantik menjadi Ketua Wantimpres.  Pratikno diberi tugas menjaga mulut anggotanya, Rocky Gerung, jangan sampai keceplosan bilang "dungu" dan "tolol" di depan Presiden. Qodari sebagai sekretaris Wantimpres akan mencatatnya cermat.

Maka, istilah yang lebih tepat mungkin bukan “dipreteli” atau "dihabisi", melainkan “dipindahkan" saja seperti permainan catur yang mengenal Rokade: mereka digeser agar Raja tetap aman.

Lucunya politik. Satu orang digeser dari kursi A ke kursi B, lalu mereka berteriak: habis sudah Genk Solo! Padahal orangnya masih ada. Bahkan kursi barunya bisa saja sama strategisnya.

Maka saya jadi bertanya, yang sebenarnya sedang dihabisi itu siapa? Orangnya, jabatannya, atau hanya narasi kita tentang orang tersebut?

Ini penting karena politik bukan permainan kursi pada musik anak-anak. Ketika musik berhenti, tidak otomatis semua yang berdiri kehilangan kekuasaan. Kadang kursinya memang berganti, tetapi orangnya masih berada di dalam ruangan.

Dan jangan lupa satu hal lagi. Pratikno yang selama ini kerap diasosiasikan dengan Jokowi kini menjadi Ketua Wantimpres itu, membawahi 25 anggotanya. Presiden Prabowo melantiknya bersama jajaran Wantimpres baru pada 2 Oktober.

Kalau begitu, bagaimana ceritanya disebut “Genk Solo digulung sampai menjadi tikar” alias mengalami kebangkrutan politik?

Jangan-jangan bukan gulung tikar, melainkan gelar terpal.

Belum selesai di situ, ini membuat para pembenci muntaber,  Anwar Usman alias Paman Usman, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi sekaligus paman Gibran, yang kini tercatat sebagai anggota Wantimpres.

Menariknya, ketika ditanya soal sengketa syarat pencalonan Gibran di MK, Paman Usman memilih tidak berkomentar dan menyerahkan perkara itu kepada MK. Bikin mual, kan?

Jadi, kalau ada yang mengatakan seluruh jejaring lama sudah dibersihkan, saya pribadi perlu bertanya dengan sederhana: dibersihkan dari mana?

Ibaratkan politik adalah rumah. Ia bukan rumah yang setelah disapu langsung kosong. Ia lebih mirip halaman luas. Orang bisa pindah tempat, berganti jabatan, masuk ke ruangan lain, atau duduk di meja berbeda. Yang berubah bisa saja posisi, tetapi belum tentu berubah jaringan, pengalaman, dan pengaruh.

Lalu bagaimana dengan Gibran?

Ini yang jauh lebih menarik. Gibran sedang menghadapi perkara yang dipersoalkan di MK. Tetapi ketiadaan pembelaan politik yang berisik tidak otomatis berarti ia sudah ditinggalkan.
Ada kalanya dalam politik seseorang justru tidak perlu dibela dengan suara keras.

Kader Golkar misalnya, sebagaimana dikutip Kang Maman, mengatakan kurang lebih, "Untuk apa dibela kalau pasti menang" , dengan alasan posisi pemohon lemah. Iya juga sih.

Saya sendiri tidak perlulah ikut memastikan siapa yang akan menang di MK nanti. Itu wilayah hakim, bukan wilayah penulis opini yang suka ngomporin peristiwa dan bikin sebagian pembacanya kepanasan.

Tetapi logikanya memang menarik. Dalam politik, diam tidak selalu berarti kalah. Kadang diam berarti menghitung. Kadang diam berarti percaya diri. Kadang pula diam karena sebuah perkara memang sedang diserahkan kepada institusi yang memiliki kewenangan memutusnya.

Karena itu, saya kira kita perlu berhati-hati menggunakan istilah “habis”, “digulung”, atau “senjakala”.
Kata-kata seperti itu memang enak dipakai untuk membuat judul artikel opini. Tetapi politik sering kali tidak serapi judul berita.

Orang yang kemarin disebut “habis” hari ini bisa menjadi pejabat baru. Orang yang kemarin disebut “tersingkir” bisa mendapatkan meja yang lain. Dan orang yang dianggap sudah keluar dari lingkaran kekuasaan ternyata hanya pindah pintu masuk.

Maka kalau ada yang bertanya, “Genk Solo dihabisi?” Saya cukup tersenyum saja.

Sebab, belum tentu. Bisa jadi kita sedang melihat sebuah kelompok dibubarkan. Tetapi bisa juga kita sedang melihat orang-orangnya hanya berpindah tempat duduk.

Atau, kalau mau sedikit nakal:
bukan gulung tikar, tetapi sedang gelar terpal, seperti apa kata Kang Maman.

Ah, menanggapi tulisan Kang Maman ini cuma menghabiskan waktu ngopi pagi saya saja.

Permisi...

***

Bandung, 3 Oktober 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 9 = ?
Berita Terkait