Peringati HUT ke-2, nataragung.id Gelar Pelatihan Imam dan Khatib, Perkuat Kualitas Dakwah di Tengah Masyarakat
nataragung.id - Lampung Selatan - Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2, media online nataragung.id menggelar Pelatihan Imam dan Khatib di Masjid Nurul Islam, Desa Banjar Negeri, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan berlangsung lancar dan sukses dengan dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Natar, Dr. H. Ahmad Sarbanun tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta para imam dan khatib yang berjumlah 51 orang dari berbagai masjid yang ada di Kabupaten Lampung Selatan, Pesawaran serta Kota Bandar Lampung, baik kalangan senior maupun generasi pemula.
Pelatihan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nataragung.id dalam mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang keagamaan, khususnya dalam mempersiapkan imam dan khatib yang memiliki kemampuan keilmuan, komunikasi, serta akhlak yang baik dalam membimbing umat.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Pemimpin Redaksi nataragung.id, Syahidan. MH, S.Ag. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa pelatihan imam dan khatib merupakan bagian dari komitmen nataragung.id untuk menghadirkan kegiatan yang tidak hanya berorientasi pada dunia jurnalistik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam sesi materi pertama, Ketua Umum DPW Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Lampung KH Ahmad Yani Marjas, menyampaikan pembahasan bertajuk “8 Hal yang Membuat Khutbah Jumat Menarik dan Membekas di Hati: Bukan Sekadar Didengar, tetapi Menggerakkan Hati dan Mengubah Kehidupan.”
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa khutbah Jumat bukan sekadar rutinitas mingguan atau penyampaian materi keagamaan dari atas mimbar. Lebih dari itu, khutbah merupakan sarana dakwah untuk menghidupkan hati, menguatkan keimanan, serta mengajak umat memperbaiki kualitas kehidupan.
Ada delapan hal penting yang perlu diperhatikan seorang khatib, yakni keikhlasan dalam berniat, memilih tema yang dekat dengan kehidupan jamaah, membuka khutbah dengan kalimat yang menggugah, menggunakan dalil yang kuat dan mudah dipahami, menyampaikan kisah serta perumpamaan yang tepat, menggunakan bahasa yang jelas dengan intonasi wajar, menjaga khutbah tetap ringkas dan terarah, serta menutup khutbah dengan pesan yang mendorong jamaah melakukan amal nyata.
Menurutnya, khutbah yang baik tidak selalu harus panjang dan dipenuhi banyak materi. Hal terpenting adalah ketepatan pesan, kekuatan landasan dalil, serta kemampuan khatib menghubungkan ajaran Islam dengan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Komiruddin, Lc., pengarang Khutbah 2 bahasa dengan tema “Tujuh Sifat Mendasar yang Harus Dimiliki Imam dan Khatib: Ikhlas dalam Beramal, Berilmu dalam Membimbing, dan Berakhlak dalam Melayani Umat.”
Dalam materinya, Komiruddin menjelaskan bahwa menjadi imam dan khatib bukan sekadar memiliki suara merdu, bacaan Al-Qur'an yang baik, atau kemampuan berbicara di depan jamaah. Keduanya merupakan amanah keagamaan yang menuntut tanggung jawab ilmu, kematangan pribadi, dan keteladanan akhlak.
Ia menguraikan tujuh sifat mendasar yang harus tertanam dalam diri seorang imam dan khatib, yaitu:
Al-Ikhlas, ikhlas dalam beramal dan menjalankan tugas karena Allah SWT.
Al-'Ilmu, memiliki ilmu agama yang benar serta bertanggung jawab dalam menyampaikan ajaran Islam.
Sadrun Rahib, berlapang dada dalam menghadapi perbedaan dan menerima kritik.
Ash-Shabr, sabar dalam membimbing dan mendampingi umat.
Ar-Rifq, mengedepankan kelembutan dalam berdakwah dan menyampaikan nasihat.
Al-'Afwu, menjadi pribadi pemaaf dan tidak menyimpan dendam.
At-Tawadhu', rendah hati serta tidak menyombongkan ilmu maupun kedudukan.
Komiruddin menegaskan bahwa mimbar merupakan amanah, bukan sekadar kedudukan. Seorang imam dan khatib tidak hanya dituntut mampu menyampaikan kebaikan melalui lisan, tetapi juga harus berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Jamaah, lanjutnya, tidak hanya mendengarkan apa yang disampaikan dari mimbar, tetapi juga memperhatikan bagaimana seorang imam memperlakukan sesama, menyikapi perbedaan, menghadapi kritik, dan menjaga amanah.
Kedua materi tersebut mendapatkan ruang diskusi dan menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperdalam pemahaman sekaligus meningkatkan kesiapan dalam menjalankan tugas sebagai imam dan khatib di lingkungan masing-masing.
Kegiatan ini juga menjadi wadah silaturahmi dan berbagi pengalaman antara para imam dan khatib senior dengan generasi muda yang mulai mempersiapkan diri untuk mengambil peran dalam pelayanan keagamaan di tengah masyarakat.
Acara kemudian ditutup oleh Komisaris PT Natar Agung Media, Sunano, SE., MM. Penutupan dilanjutkan dengan makan siang bersama dan ramah tamah seluruh peserta dalam suasana penuh keakraban.
Melalui kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-2 ini, nataragung.id berharap dapat terus mengambil peran dalam memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, tidak hanya melalui pemberitaan dan informasi, tetapi juga melalui kegiatan edukasi, sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat.
Pelatihan ini diharapkan menjadi bekal bagi para imam dan khatib untuk semakin meningkatkan kualitas khutbah, memperkuat pemahaman keagamaan, serta menghadirkan dakwah yang santun, mencerahkan, dan menyentuh kehidupan umat.
Dua tahun nataragung.id, terus bertumbuh, mengabarkan kebenaran, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar