Otak Konspiratif dan Tuduhan Gegabah. Oleh : Herry Tjanyono *)

JELAJAH NUSANTARA 19 Jun 2025 04:19 adm@nataragung.id
nataragung.id - JELAJAH NUSANTARA - Kadang, hidup kita seperti ruang gema–dan suara-suara yang keras lebih cepat menyebar ketimbang yang jernih. Dan yang paling mudah diterima bukan yang paling benar, melainkan yang paling sesuai dengan ketakutan, kecurigaan, pun kebencian kita. Beberapa waktu lalu, jagat maya diramaikan oleh isu “pengalihan wilayah Aceh ke Sumatera Utara”. Empat pulau–Banyak Nipah, Panjang, Lipan, dan Sopak–tiba-tiba menjadi bahan bakar baru bagi mesin-mesin kecurigaan dan kebencian politik. Narasi mulai dibangun: ini pasti ulah Jokowi. Atau Gibran. "Salawi"! Mereka, kabarnya diam-diam ingin “menguasai” semua. Salah satu tuduhan yang mengemuka bahkan menyasar Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian. Katanya, Tito sedang “membalas budi” kepada Jokowi. Narasi ini dibumbui dengan insinuasi bahwa segala keputusan struktural pemerintah kini tak lebih dari bagian dari agenda satu dinasti kekuasaan. Tuduhan yang cepat, tajam, dan seperti biasa–tanpa verifikasi. Namun, seperti daun yang diterpa angin kebenaran, semua itu rontok satu demi satu. Dalam pernyataan resminya Mendagri Tito Karnavian menjelaskan bahwa permintaan memasukkan empat pulau tersebut ke wilayah Sumut berasal dari Gubernur Sumut sebelumnya–Edy Rahmayadi. Bukan Jokowi. Bukan pula bayangan oligarki. Dan yang lebih menarik: Edy adalah kader dan jagoan politik dari PDI-P, bukan bagian dari klan yang sedang jadi target tudingan konspiratif. ???? ???????????: ???? ?????????? ?? ????????? Psikologi menyebut fenomena ini sebagai ?????????????? ????????–pola pikir yang cenderung melihat peristiwa dengan kacamata kecurigaan sistemik, bahkan saat tidak ada bukti yang mendukung. Bagi otak konspiratif, "tidak ada bukti" justru dianggap sebagai bukti bahwa sesuatu sedang disembunyikan. Itulah paradoksnya. Dalam artikelnya ??????? ?????????? ?? ????????????? ??????? (Karen Douglas2017), orang yang berpikir konspiratif cenderung: 1. Mempercayai bahwa dunia dikendalikan oleh kelompok kecil yang licik. 2. Lebih mudah menerima narasi alternatif ketimbang penjelasan resmi. 3. Menolak bukti yang berlawanan sebagai "bukti bahwa sistem sudah dikendalikan". Dengan kata lain, kebenaran tidak lagi penting–yang penting adalah kesesuaian dengan rasa tidak percaya yang sudah lebih dulu menetap di kepala. ?????? ????????? ?????????? ???????????? Maka, muncullah meme-meme, potongan video, dan narasi viral yang menyulut emosi publik tanpa menunggu klarifikasi. Semuanya diarahkan pada satu sasaran yang sudah lama dipilih: Jokowi dan semua yang terkait dengannya. Padahal, jika kita mau sedikit menahan diri, sedikit membaca, sedikit menunggu keterangan resmi, kita akan tahu: permintaan untuk mengubah batas wilayah itu sudah diajukan oleh Gubernur Sumut sebelumnya lewat Kemendagri pada tahun 2022. Bahkan, Aceh pun tak serta merta kehilangan wilayah. Proses penegasan batas wilayah (dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri) adalah hal biasa dalam administrasi pemerintahan, bukan rampasan politik. ???? ???? ?????? ?????? ????? Betapa ironis (dan memalukan)! Yang paling dulu dituduh justru tak terlibat. Sementara yang paling diam dan dulu dielu-elukan, justru menjadi pangkal dari keputusan administratif itu. Di sinilah bahaya “otak konspiratif”: ia bukan hanya membentuk pandangan yang keliru, tetapi juga melukai karakter orang lain dengan tuduhan tak berdasar. Dan jika kita tidak hati-hati, kita akan ikut menjadi bagian dari arus itu–berpikir dengan ketakutan, bukan dengan kesadaran. ??????? ??????? ???? ?? ??? ???? ?????? Kita hidup di zaman yang terlalu cepat memberi kesimpulan, tapi malas mencari sebab. Terlalu gesit menyebar kabar, tapi enggan memverifikasi. Di ruang terbuka ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan kekuatan untuk membantah, tapi kebijaksanaan untuk diam sejenak, membaca lebih dalam, dan berpikir lebih jernih. Sebab kebenaran tak pernah menjerit. Kebenaran seringkali datang terakhir, berjalan pelan, tanpa membawa mikrofon. Tapi ia tetap datang. —???? ????? ???????, ?? ???? ????? ???? ????? ?????? ?????? ?????? ????? ????????. Sumber: 1. Tempo.co, 14 Juni 2025. 2. Permendagri Nomor 100.1.1.1-6117 Tahun 2022. *) Penulis adalah Profesional (Former), CEO Perusahaan Swasta, Penulis Buku, Kolumnis KOMPAS.
Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 9 = ?
Berita Terkait