Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Ketika Globalisasi Mengubah Wajah Budaya Lokal. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Malam ini, izinkanlah saya, sebagai seorang penyimbang yang sudah cukup lama bergulat dengan lembaran-lembaran adat, bercerita di beranda sederhana ini.
Angin malam dari arah Bukit Barisan seakan membawa bisikan kisah lama, sebuah kisah yang saya dengar dari almarhum Dalom Jaya, yang sering bertutur di rumahnya di Labuhan Ratu. Beliau menceritakan tentang Kampung Gunung Sugih, sebuah kampung yang terletak di dataran tinggi Lampung Tengah, tempat kabut tipis menyelimuti sawah-sawah di pagi hari.
Dahulu, di Kampung Gunung Sugih, hiduplah seorang pemuda bernama Sutan Jaya. Ia adalah keturunan bangsawan, tampan, dan cerdas. Namun, seperti kebanyakan pemuda di zamannya, Sutan Jaya mulai terpengaruh oleh angin perubahan yang berembus dari tanah seberang. Ia mulai meninggalkan pakaian adatnya, lebih memilih kemeja dan celana panjang model baru.
Ia juga mulai enggan mengikuti upacara Begawi yang digelar di kampung, menganggapnya kuno dan membosankan. Suatu hari, seorang tetua kampung, yang merupakan kerabat dekatnya, menggelar hajatan besar. Sutan Jaya diundang, tetapi ia memilih untuk tidak datang, beralasan ada urusan lain yang lebih penting. Hatinya sudah mulai jauh dari kampung halaman.
Ketika mendengar kabar itu, Dalom Jaya memanggil Sutan Jaya ke rumahnya. Dengan suara yang lembut namun penuh wibawa, beliau berkata, "Nak Sutan Jaya, kau tahu petuah orang tua kita?
'Jejama mak kenal sai sai, begawi mak kenal sai sai.' Petuah ini mengajarkan, orang yang tidak mengenal siapa-siapa, maka ia akan kehilangan saudara. Orang yang tidak mau bergotong-royong, maka ia akan kehilangan kebersamaan."
Sutan Jaya terdiam. Ia mulai menyadari bahwa jauhnya ia dari adat, sama saja dengan menjauh dari akar dirinya sendiri. Sejak malam itu, ia berjanji untuk tidak melupakan kampung halaman dan nilai-nilai adat yang telah membesarkannya.
Kisah Sutan Jaya ini seperti cermin bagi kita semua, terutama di zaman yang serba cepat dan terhubung ini. Kita menyebutnya globalisasi, sebuah gelombang besar yang membawa masuk berbagai budaya, gagasan, dan gaya hidup dari seluruh penjuru dunia. Di satu sisi, globalisasi membawa banyak kemudahan. Kita bisa berkomunikasi dengan keluarga di perantauan melalui layar ponsel, kita bisa mengakses ilmu pengetahuan dari universitas terbaik di dunia, dan kita bisa belajar tentang budaya bangsa lain tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Namun, di sisi lain, arus globalisasi yang deras seringkali menggerus nilai-nilai lokal yang sudah mengakar kuat. Nilai-nilai luhur kita terancam tergerus oleh budaya populer yang serba instan dan individualistis.
Sebagai orang Lampung, kita memiliki bendera untuk menghadapi arus perubahan ini, yaitu Pi'il Pesenggiri. Dalam falsafah ini, terkandung nilai-nilai yang telah terbukti kokoh selama berabad-abad, yaitu Juluk-Adok (harga diri dan gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahtamahan), Nengah Nyappur (keterbukaan dan bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (gotong-royong).
Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi identitas kita sebagai orang Lampung, sebuah identitas yang tidak lekang oleh waktu. Sayangnya, banyak generasi muda kita yang mulai meninggalkan nilai-nilai ini, terjebak dalam budaya individualisme yang dibawa oleh globalisasi.
Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi adalah tergerusnya bahasa Lampung sebagai identitas budaya. Dulu, anak-anak di Kampung Tanjung Raya diajarkan untuk berbicara dengan cakak mego, bahasa hormat yang penuh tata krama. Namun kini, bahasa Lampung mulai ditinggalkan, digantikan oleh bahasa Indonesia dan bahasa asing yang dianggap lebih modern.
Generasi muda kita lebih akrab dengan ponsel dan media sosial daripada dengan aksara Lampung dan bebadok. Jika ini dibiarkan, maka bahasa kita hanya akan terdengar di upacara adat, atau bahkan hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut.
Tantangan berikutnya datang dari melemahnya peran keluarga dan lembaga adat dalam menanamkan nilai-nilai budaya. Rumah-rumah adat, yang dulu menjadi pusat pendidikan karakter bagi anak-anak, kini mulai sepi. Orang tua sibuk dengan urusan duniawi, anak-anak tenggelam dalam dunianya sendiri. Upacara adat seperti Begawi dan Cangget yang dulu menjadi ajang berkumpul dan mempererat tali persaudaraan, kini mulai ditinggalkan, atau jika dilaksanakan, hanya sebagai seremoni tanpa makna yang mendalam. Kita kehilangan ruang untuk belajar tentang tata krama, tentang silsilah marga, dan tentang nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh para leluhur.
Namun, meskipun tantangan berat menghadang, bukan berarti kita harus pasrah. Globalisasi juga menghadirkan peluang bagi kita untuk memperkenalkan budaya Lampung ke mata dunia. Dengan memanfaatkan teknologi digital dan media sosial, kita bisa menyebarkan nilai-nilai adat, memperkenalkan tarian Cangget, dan mengajarkan bahasa Lampung kepada generasi muda yang tersebar di berbagai penjuru nusantara.
Kita bisa menciptakan konten-konten kreatif yang menarik tentang budaya Lampung, sehingga anak-anak muda kita justru bangga dengan identitasnya sendiri. Kita juga bisa menjadikan Kitab Kuntara Raja Niti sebagai sumber inspirasi untuk membangun karakter bangsa yang tangguh menghadapi transformasi budaya global.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya,
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."
Ayat ini turun untuk mengajarkan bahwa keberagaman dan perbedaan adalah sunnatullah, dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari status sosial atau kekayaan, melainkan dari ketakwaannya.
Dalam konteks globalisasi, ayat ini mengajarkan kita untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ketakwaan dan identitas kita, tanpa harus menutup diri dari interaksi dengan bangsa lain.
Inilah tugas kita bersama, para orang tua, para pendidik, dan para pemangku adat. Kita harus menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Kita harus mengajarkan anak-anak kita untuk tidak melupakan kampung halaman dan akar budayanya, namun juga membekali mereka dengan keterampilan untuk menghadapi zaman.
Kita harus memperkuat peran keluarga dan lembaga adat sebagai benteng pertahanan identitas. Mari kita hidupkan kembali nilai-nilai Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan menjaga adat, kita menjaga jati diri kita sebakeh orang Lampung dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang besar.
Sebagaimana petuah yang sering diucapkan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga: "Juluk adok segagham muli, gelar pusaka turun temurun; sakai sambayan jadi penyuluh, nengah nyappur perekat hidup." Tabik pun.
Daftar Pustaka:
1. Penerapan Nilai Piil Pesenggiri bagi Generasi Muda di Era Globalisasi Ditinjau dari Perspektif Sosiologi Hukum. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025)
2. Bahagianda, M.M. (2025). Sejarah Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung. Natar Agung.
3. Utami, A.D.I., Warto, & Sariyatun. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 13(2).
4. Preservation Strategies of Lampung Culture amidst the Challenges of Globalization and Modernity. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025)
5. Dinamika Penggunaan Bahasa Lampung dalam Keluarga di Kota Bandar Lampung. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025)
6. Bahagianda, M.M. (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Tata Krama Berbicara yang Mulai Terlupakan. Natar Agung.
7. Priamantono, R., Warto, & Musaddad, A. (2020). Implementation of Local Wisdom Values of Piil Pesenggiri as Character Education in Indonesian History Learning. VNU Journal of Science: Education Research, 36(4).
8. Yustiana, B.A., Prayogi, R., & Hilal, I. (2024). Strategi Pelestarian Eksistensi Bahasa Lampung dalam Konteks Keberagaman Bahasa Daerah di Indonesia. Jurnal Punyimbang, 4(1).
9. Bahagianda, M.M. (2025). Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun: Seri 1: Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang. Pemerintah Provinsi Lampung.
10. Yasin, F.Y., & Juhro, E.A. Kitab Kuntara Raja Niti: Study of the Entry of Islam in Lampung. UIN Raden Intan Lampung.
11. Tenaga Pendamping Gubernur Bidang Kebudayaan Tekankan Pelestarian Adat Lampung. Tribunlampung.co.id, 2025.
12. Perdana, Y. (2022). Implementasi Nilai-Nilai Piil Pesenggiri Sebagai Pencegahan Degradasi Sosiokultural di Era Revolusi Industri 5.0. Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial, 9(2).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar