Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung. Adat Lampung sebagai Sumber Pendidikan Karakter. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 07 Aug 2026 03:20 adm@nataragung.id

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Malam ini, biarlah saya mengajak kalian bernostalgia sejenak ke sebuah kampung di kaki Gunung Tanggamus, tepatnya di Kampung Ulubelu, tempat kabut tipis selalu menyelimuti pepohonan di pagi hari.
Di sana, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Radin. Sejak kecil, Radin dikenal sebagai anak yang cerdas, matanya selalu berbinar saat mendengar cerita dari para tetua, namun sayang, ia juga tumbuh menjadi anak yang sedikit angkuh. Ia suka menyela pembicaraan orang tua, kerap berbicara keras tanpa memedulikan siapa yang sedang berbicara, dan tidak pernah mau mengalah saat bermain dengan teman-temannya.
Orang tuanya, Dalom Pangeran Nata dan istrinya, hanya menggeleng-gelenkan kepala sambil tersenyum kecil, berharap suatu saat pengalaman hidup akan mengajarkan Radin arti kesantunan.

Suatu hari, kampung itu kedatangan seorang saudagar kaya dari tanah seberang. Namanya Dalom Serunting, seorang pembisnis lada dan rempah yang telah menjelajah banyak negeri. Ia dijamu oleh para penyimbang kampung di balai adat yang megah, tempat segala keputusan penting dimusyawarahkan. Semua warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan, termasuk Radin yang penasaran dengan sosok pendatang itu.
Di tengah acara yang khidmat, dengan para tetua duduk bersila dan tamu agung dihormati dengan sirih pinang, Radin tiba-tiba bersuara lantang memotong pembicaraan sang penyimbang, menanyakan sesuatu yang tidak penting tentang perjalanan saudagar itu.

Suasana hening. Para tetua saling berpandangan, raut muka mereka berubah cemberut. Malu rasanya sebagai penyimbang melihat seorang anak kampung sendiri tidak memiliki tata krama di hadapan tamu agung.
Sang penyimbang, tidak marah. Beliau adalah tetua yang bijaksana, telah puluhan tahun memimpin kampung dengan tangan terbuka dan hati yang lapang. Dengan tenang, beliau menepuk pundak Radin lalu berkata dengan suara lembut namun penuh wibawa, "Nak Radin, dalam adat kita, ada petuah yang berbunyi: 'Tiyuh mak ngelappuk kenui, sebambangan mak ngelappuk pesagi, jelma mak ngelappuk pesenggiri.'
"Petuah ini mengajarkan, kampung tidak akan indah tanpa kerukunan, bambu tidak akan kuat tanpa rumpun, dan manusia tidak akan bermartabat tanpa Pi'il Pesenggiri." Mendengar itu, Radin tersipu. Ia sadar, bahwa yang ia perlihatkan bukanlah kebanggaan, melainkan sikap yang merendahkan pesenggiri keluarganya dan kampungnya.

Sejak malam itu, Radin mulai belajar menjadi anak yang santun, yang mendengarkan sebelum berbicara, dan yang menghormati setiap orang tanpa memandang usia maupun status. Ia belajar bahwa harga diri sejati tidak diperoleh dengan suara keras, melainkan dengan budi pekerti yang halus.

Kisah Radin ini adalah cerminan bagaimana adat Lampung mengajarkan pendidikan karakter sejak usia dini. Bagi kita, Pi'il Pesenggiri bukan sekadar falsafah yang terpampang indah, ia adalah ruh yang mendidik dan menuntun. Ia mengajarkan bahwa harga diri harus dirawat bukan dengan kesombongan, tetapi dengan kerendahan hati dan penghormatan kepada sesama.
Seorang anak tidak akan bisa memahami pesenggiri jika ia tidak diajarkan tata krama sejak kecil. Inilah mengapa dalam adat Lampung, pendidikan karakter dimulai dari keluarga, dari cara orang tua berbicara kepada anak, dari cara anak diingatkan saat berbuat salah, dan dari keteladanan yang diberikan oleh para tetua di lingkungan sekitar.

Dalam sejarah adat kita, sumber-sumber kuno seperti Kitab Kuntara Raja Niti memuat nilai-nilai yang menjadi landasan pendidikan karakter yang kokoh. Kitab ini berisi tuntunan lengkap tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta yang menjadi tempat kita berpijak.
Saya pernah mendengar nasihat tua dari seorang penyimbang Pepadun di Kampung Ngarip, yang mengatakan bahwa pendidikan anak itu dimulai dari rumah, dimulai dari Juluk-Adok yang diberikan saat upacara adat. Sebuah gelar bukanlah sekadar nama tambahan yang membanggakan, tetapi tanggung jawab dan doa yang akan membentuk perilaku seseorang sepanjang hidupnya.

Ketika seorang anak diberi gelar Dalom, ia diajarkan untuk menjadi pemimpin. Ketika diberi gelar Sutan, ia diajarkan untuk menjadi pelindung. Itulah pendidikan karakter yang paling nyata: menjadikan nama sebagai cermin perbuatan.
Mari kita telaah satu per satu nilai-nilai luhur yang membentuk karakter orang Lampung. Pertama, Juluk-Adok. Nilai ini mengandung pendidikan karakter berupa tanggung jawab, kepemimpinan, dan keadilan.
Ketika seseorang diberi gelar melalui upacara Begawi atau Cakak Pepadun, ia dituntut untuk hidup sesuai dengan makna gelarnya. Ia harus menjadi teladan bagi orang lain, menjaga amanah, dan menegakkan kebenaran. Ini mengajarkan anak-anak kita bahwa sebuah kehormatan harus diperjuangkan dengan perbuatan baik, bukan sekadar diambil dengan kata-kata manis.

Kedua, Nemui Nyimah mengajarkan sikap terbuka, suka memberi, dan rendah hati. Ini bukan hanya soal menerima tamu dengan hidangan yang lezat, tetapi membentuk kepribadian anak-anak kita agar tidak kikir dan tidak sombong. Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, kita sering melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang individualistis, enggan berbagi, dan sulit menerima kehadiran orang lain. Nilai Nemui Nyimah hadir sebagai obat yang menyembuhkan.
Seorang anak yang diajarkan untuk memuliakan tamu sejak kecil akan tumbuh menjadi pribadi yang dermawan dan ramah. Ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 26-27
وَاٰتِ ذَا الۡقُرۡبٰى حَقَّهٗ وَالۡمِسۡكِيۡنَ وَابۡنَ السَّبِيۡلِ وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيۡرًا اِنَّ الۡمُبَذِّرِيۡنَ كَانُوۡۤا اِخۡوَانَ الشَّيٰطِيۡنِ‌ ؕ وَكَانَ الشَّيۡطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوۡرًا

Wa aati zal qurbaa haqqahuu walmiskiina wabnas sabiili wa laa tubazzir tabziiraa, Innal mubazziriina kaanuu ikhwaanash shayaatiini wa kaanash shaytaanu li Rabbihii kafuuraa
"Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya."

Ketiga, Nengah Nyappur mengajarkan toleransi, kemampuan bermasyarakat, dan musyawarah. Radin, dalam cerita tadi, kekurangan nilai inilah yang membuatnya dicela oleh para tetua. Di sinilah anak-anak kita diajarkan untuk menghargai perbedaan, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan menjadi insan yang mudah bergaul serta memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi.
Orang Lampung terbuka kepada siapa pun, tidak mengenal diskriminasi, dan selalu siap duduk bersama dalam musyawarah untuk mencapai mufakat. Nilai ini juga sejalan dengan sila keempat Pancasila, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Dengan Nengah Nyappur, anak-anak kita belajar bahwa setiap suara berharga dan setiap pendapat patut didengar.
Keempat, Sakai Sambayan menumbuhkan semangat gotong-royong dan solidaritas. Nilai inilah yang mengajarkan bahwa sukses bukanlah hasil kerja sendiri, melainkan buah dari kebersamaan. Di Kampung Kelumbayan, misalnya, tradisi nyakai sambayan masih terjaga dengan baik.
Saat ada warga yang akan membangun rumah atau menggelar hajatan, seluruh kampung turun tangan membantu. Anak-anak diajarkan untuk ikut serta, meskipun hanya mengangkat air atau membersihkan halaman. Dari sinilah mereka belajar tentang keikhlasan, kesetiakawanan, dan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari berbagi beban bersama.
Semua nilai luhur ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Justru, ajaran adat ini memperkuat ajaran agama yang kita anut dan menjadi benteng moral bagi generasi muda. Allah SWT berfirman dalam Surah Luqman ayat 13-15 tentang pentingnya berbakti kepada orang tua dan bersyukur, yang merupakan pondasi dari seluruh pengajaran adat.
Dalam Surah Al-Maidah ayat 2, Allah juga memerintahkan kita untuk tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, yang merupakan inti dari Sakai Sambayan. Islam mengajarkan umatnya untuk memiliki akhlak mulia, dan Pi'il Pesenggiri adalah manifestasi dari akhlak mulia itu dalam budaya Lampung.
Bahkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa orang yang paling baik akhlaknya adalah yang paling sempurna imannya. Ini menunjukkan bahwa karakter yang baik adalah bagian tak terpisahkan dari kesalehan seorang Muslim.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya instan yang seringkali melunturkan nilai-nilai kesantunan, adat Lampung adalah pelabuhan yang aman untuk membangun karakter bangsa. Ia adalah sumber daya pendidikan yang tak ternilai harganya. Adat mengajarkan anak-anak kita bukan hanya menjadi pintar secara intelektual, tetapi juga bijak secara emosional dan luhur secara spiritual.
Ia mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa budi pekerti adalah seperti pohon tanpa akar, mudah tumbang saat badai menerpa. Generasi muda kita perlu diingatkan bahwa menjadi orang Lampung bukan hanya tentang darah yang mengalir, tetapi tentang nilai-nilai yang dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mari kita tanamkan kembali nilai-nilai adat ini kepada generasi penerus. Mulailah dari hal-hal kecil di rumah. Ajari mereka untuk menyapa tetangga dengan ramah, untuk mendengarkan ketika orang tua berbicara, untuk mengucapkan terima kasih saat menerima sesuatu, dan untuk meminta maaf saat berbuat salah. Bawa mereka ke acara-acara adat, perkenalkan mereka pada para tetua, dan biarkan mereka merasakan hangatnya kebersamaan dalam Sakai Sambayan.
Karena dengan itulah marwah adat Lampung akan tetap berdiri tegak, mengakar kuat di bumi kita, dan berbuah manis untuk masa depan bangsa. Sebagaimana petuah tua mengatakan, "Induk ayam dikenal dari telurnya, induk harimau dikenal dari belangnya, dan manusia dikenal dari budi pekertinya."
Tabik pun…. <>

Daftar Pustaka:

  1. Ananda, L., Nurulanningsih, N., Asante, J. N., & Shah, N. M. (2025). Reviving Local Wisdom: Teaching Social Values through Lampung in Indonesian Education. Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(1).
  2. Utami, A. D. I., Warto, W., & Sariyatun, S. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 13(2).
  3. Aditya, R., Mahmud, I., Hidayati, D. A., Rochana, E., & Hartoyo, H. (2025). Upaya Penguatan Literasi dan Nilai Karakter Anak melalui Program POSKRITER. Nengah Nyappur: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1).
  4. Eka, S. A., & Ariyani, F. (2015). Pengembangan Nilai Karakter Berbasis Kelokalan (Piil Pesenggiri) pada Ranah Pendidikan. Prosiding KBI.
  5. Fitriana, D. N. (2024). Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Islam. Skripsi UIN Raden Intan Lampung.
  6. Yunita, M. (2024). Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5PPRA) Berbasis Kearifan Lokal. Skripsi UIN Raden Intan Lampung.
  7. Bahagianda, M.M. (2026). Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 3: Pendidikan Karakter dalam Adat. Natar Agung.
  8. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
  9. Al-Qur'an dan Terjemahnya. (Surah Al-Isra: 26-27, Surah Luqman: 13-15, Surah Al-Maidah: 2).
  10. Bukhari & Muslim. Hadis tentang Akhlak dan Kesempurnaan Iman.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 2 = ?
Berita Terkait