Ketika Angka Membuat Jantung Berdebar: Menelisik Kecemasan Matematika Sebagai Sayap Luka di Ruang Kelas

ARTIKEL • 04 Nov 2026 11:59 • Admin NA
Ketika Angka Membuat Jantung Berdebar: Menelisik Kecemasan Matematika Sebagai Sayap Luka di Ruang Kelas

Oleh: Diajeng Khoirunisa - Mahasiswa Tadris matematika, semester 3, UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Matematika sering dianggap sebagai ratu ilmu pengetahuan, beberapa siswa menganggapnya sebagai ruang ujian yang menakutkan. Ketika guru meminta seseorang untuk mengerjakan soal di papan tulis telapak tangannya sudah berkeringat, mendadak kosong, serta jantung berdetak dua kali lebih cepat. Kecemasan matematika (mathematics anxiety) adalah perasaan gelisah dan ketakutan yang mengganggu kemampuan seseorang untuk memanipulasi angka dan menyelesaikan masalah matematis.

Menurut psikologi Pendidikan, kecemasan ini lebih dari sekedar “tidak bakat berhitung” melainkan masalah psikologis yang berakar pada sebuah pengalaman belajar, keyakinan diri, dan lingkungan kelas.

_Kecemasan yang mencuri kapasitas berpikir_

Salah satu penjelasan yang paling relevan adalah bagaimana memori kerja (working memory). Karena kapasitas memori kerja manusia terbatas, Ketika seorang siswa dihantui oleh rasa takut salah, bagian dari kemampuan mereka digunakan untuk mengolah ketakutan mereka daripada untuk berpikir tentang cara menyelesaikan sebuah soal.

Akibatnya, siswa yang sebenarnya memahami konsep dapat tampak “tidak mampu” saat mengerjakan tugas. Ini adalah titik ketidakadilan yang sering diabaikan; nilai rendah tidak selalu menunjukkan pemahaman yang buruk, tetapi bisa menunjukan beban emosional yang besar. Karena sifatnya yang melingkar, masalah ini menjadi lebih serius. Siswa yang cemas cenderung menghindari latihan, serta kurangnya latihan dapat mengurangi penguasaan mereka. Lingkaran inilah yang menyebabkan kecemasan matematika bertahan hingga dewasa, bahkan memengaruhi keputusan seseorang untuk belajar dan bekerja.

Kecemasan matematika yang tinggi menunjukan hasil yang lebih buruk terhadap tugas-tugas yang membutuhkan banyak memori kerja, seperti perhitungan bertahap yang mengharuskan seseorang menyimpan hasil sambal melanjutkan ke langkah berikutnya.

Temuan ini sejalan dengan teori kendali atensi (attentional control theory) yang di usulkan oleh Eysenck dan rekannya, menyatakan bahwa kecemasan mengalihkan perhatian ke arah ancaman, melemahkan fokus pada tugas. Penemuannya sejalan dengan teori ini.  Dengan kata lain, cemas bukanlah kurangnya pengetahuan itu adalah tergantungnya proses berpikir. Dalam hal hafalan sederhana efeknya mungkin tidak terlihat. Namun, dalam hal pemecahan masalah yang kompleks efeknya nyata.

_Peran guru: antara penyembuh dan pemicu_

Guru dapat menjadi penyembuh, tetapi mereka juga dapat menyebabkan kecemasan secara tidak sadar. Praktik yang menimbulkan ketakutan yang bertahan lama, seperti menunjuk siswa secara tiba-tiba, mempermalukan jawaban yang salah, membandingkan siswa dengan temannya, atau bahkan meremehkan kecepatan pemahaman, dapat menyebabkan ketakutan yang berkelanjutan. Selain itu, kecemasan guru sendiri terhadap matematika dapat menular kepada siswa melalui sikap dan bahasa tubuh di kelas.

Teori Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal menawarkan arah perbaikan yang konkret. Pembelajaran paling efektif terjadi ketika tugas berada sedikit di atas kemampuan aktual siswa dan di sertai bantuan yang memadai (scaffoldlding). Soal yang terlalu mudah tidak menantang, sedangkan soal yang terlalu sulit tanpa bimbingan hanya memperdalam rasa tidak berdaya. Guru yang reflektif akan merancang tangga kesulitan yang bertahap sehingga setiap keberhasilan kecil menjadi bahan bakar kepercayaan diri.

_Mengubah budaya kesalahan_

Menurut pendapat saya, cara paling efektif untuk mengatasi kesulitan dalam matematika adalah dengan mengubah cara siswa menyikapi persoalan. Kesalahan sering kali dianggap sebagai aib di lingkungan sekolah. Padahal, dalam proses pembelajaran, kesalahan justru merupakan sumber informasi yang berharga; kesalahan menyoroti aspek konseptual yang belum dipahami dengan baik dan membuka peluang untuk diskusi. Guru dapat melakukan analisis Bersama terhadap persoalan tersebut, menelaah proses penalaran yang mendasari jawaban siswa, serta memberikan umpan balik yang spesifik dan membangun,  alih-alih sekedar melabeli jawaban sebagai benar atau salah.

_Penutup_

Kecemasan matematika merupakan "luka tak kasatmata" karena sering kali disalah-artikan sebagai kemalasan dan kerap dijadikan contoh negatif. Namun, perspektif psikologi pendidikan menunjukkan bahwa kondisi ini dapat diperbaiki dan dikelola melalui pengembangan diri, penanaman pola pikir berkembang (growth mindset), pembelajaran yang melibatkan emosi positif, serta penciptaan suasana kelas yang aman. Saat ini, keberhasilan pendidikan matematika tidak hanya ditentukan oleh nilai ujian, tetapi juga oleh kenyamanan siswa dan keyakinan mereka dalam berinteraksi dengan angka. Oleh karena itu, tugas pendidikan tidak terbatas pada metode pengajaran semata; pendidik juga harus memastikan tidak ada siswa yang meninggalkan sekolah dengan keyakinan bahwa mereka "memang tidak mampu" menguasai matematika. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 9 = ?
Berita Terkait