Disiplin Tanpa Intimidasi Melalui Pendampingan Kadet Unhan dalam Membentuk Karakter Siswa Sekolah Rakyat - Sifa Assa’ibatul Hamdi

OPINI MASYARAKAT • 02 Oct 2026 12:58 • adm@nataragung.id
Disiplin Tanpa Intimidasi Melalui Pendampingan Kadet Unhan dalam Membentuk Karakter Siswa Sekolah Rakyat - Sifa Assa’ibatul Hamdi

Bandarlampung - Pembentukan karakter peserta didik di lingkungan Sekolah Rakyat menjadi fondasi penting bagi masa depan anak-anak dari berbagai latar belakang sosial. Dalam psikologi pendidikan, proses pembentukan karakter tidak sekadar berfokus pada hasil kepatuhan fisik, melainkan pada pengembangan seluruh potensi peserta didik secara utuh, baik aspek kognitif, emosional, maupun sosial. Kehadiran pendamping seperti para Kadet Universitas Pertahanan (Unhan) memberikan warna baru dalam mendidik dan membimbing siswa. Kehadiran figur-figur muda yang disiplin ini membawa dampak positif, terutama ketika pendekatan yang digunakan mengedepankan prinsip pengayoman tanpa kekerasan. Pembentukan karakter yang sehat membutuhkan ruang tumbuh yang tidak hanya menekankan ketertiban, tetapi juga memperhatikan kondisi emosional anak.

Kebutuhan Rasa Aman sebagai Fondasi Pembentukan Karakter

Dalam ruang lingkup psikologi pendidikan, pentingnya menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dapat dijelaskan melalui teori kebutuhan Abraham Maslow. Jaenudin & Sahroni (2021) menguraikan bahwa setelah kebutuhan dasar fisik peserta didik terpuaskan, kebutuhan akan rasa aman menjadi syarat penting yang harus dipenuhi. Ketika lingkungan belajar di Sekolah Rakyat bebas dari tekanan, ancaman fisik, maupun intimidasi psikis, anak-anak merasa terlindungi. Kondisi yang aman ini menurunkan tingkat kecemasan siswa, sehingga energi mental mereka dapat terfokus penuh untuk membangun hubungan sosial, meningkatkan harga diri, serta mengeksplorasi potensi diri secara optimal di dalam kelas.

Sebaliknya, jika proses pembentukan karakter diwarnai oleh rasa takut atau kekerasan, perhatian dan energi anak akan habis hanya untuk melindungi diri dari ancaman tersebut. Anak yang merasa terancam akan kesulitan untuk konsentrasi dan menyerap nilai-nilai kebaikan yang diajarkan. Pendampingan dari Kadet Unhan yang mengedepankan ketegasan berbalut kedamaian menjadi ruang yang sangat kondusif bagi kesiapan belajar anak. Anak-anak dapat menyerap nilai-nilai kedisiplinan bukan karena takut akan hukuman, melainkan karena merasa aman dan dihargai di lingkungan belajarnya.

Penerimaan Tanpa Syarat dan Pembentukan Kepercayaan Diri

Sebagai salah satu pendekatan utama dalam psikologi pendidikan, pendekatan humanistik yang digagas oleh Carl Rogers menekankan pentingnya sikap penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard) dan empati dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Sebagaimana dijelaskan oleh Surbakti dkk. (2024) mengenai pemikiran Carl Rogers, setiap individu membutuhkan lingkungan yang menerima dan mendukung situasi emosional mereka agar mampu memecahkan masalahnya sendiri serta berkembang secara optimal. Dalam pandangan ini, penerimaan positif tanpa syarat menjadi kunci bagi seseorang untuk menemukan harga diri dan menumbuhkan rasa percaya diri.

Ketika Kadet Unhan hadir sebagai sosok kakak pembimbing yang mengayomi, mereka tidak hanya mengajarkan kerapian dan ketertiban, tetapi juga membangun rasa percaya diri siswa saat berinteraksi. Pendekatan ini menggeser cara pandang lama yang menganggap disiplin harus selalu identik dengan tindakan keras. Sebagaimana ditegaskan oleh Surbakti dkk. (2024), lingkungan yang memberikan dukungan emosional tanpa celaan akan membantu individu menyelaraskan gambaran diri mereka saat ini (real self) dengan harapan ideal yang ingin dicapai (ideal self). Dukungan emosional ini memicu tumbuhnya motivasi intrinsik, sehingga anak-anak yang merasa diterima apa adanya akan lebih mudah mengadaptasi nilai-nilai kebaikan secara sukarela tanpa perlu dipaksa.

Disiplin dan Empati dalam Proses Pembelajaran

Melakukan pembentukan karakter tanpa kekerasan bukan berarti menghilangkan ketegasan dalam pembelajaran. Justru, ketegasan yang dibalut empati akan melahirkan rasa hormat yang sejati dari peserta didik. Dalam perspektif psikologi pendidikan, disiplin positif diajarkan melalui pemberian pemahaman logis. Pendampingan humanis mengajarkan bahwa aturan dibuat untuk menjaga keteraturan dan kebaikan bersama, bukan sebagai sarana untuk menunjukkan dominasi atau kekuasaan atas anak.

Kolaborasi antara keteladanan disiplin yang dimiliki Kadet Unhan dengan pendekatan humanis di Sekolah Rakyat menjadi model pendidikan karakter yang sangat relevan. Melalui komunikasi yang terbuka, jujur, dan saling menghargai, anak-anak diajak untuk mengenali potensi terbaik mereka tanpa perlu merasa tertekan oleh bayang-bayang hukuman. Proses peniruan terhadap keteladanan yang ditunjukkan secara konsisten oleh para pendamping akan jauh lebih efektif membentuk kebiasaan positif dan karakter yang mengakar kuat daripada sekadar ancaman atau sanksi fisik.

Menjadi Pribadi Kuat dari Lingkungan yang Aman

Pada akhirnya, pembentukan karakter merupakan proses psikologis jangka panjang yang membutuhkan kesabaran, proses belajar berkesinambungan, dan keteladanan nyata. Kekerasan atau intimidasi mungkin bisa menghasilkan kepatuhan semu dalam waktu singkat, namun hanya lingkungan yang aman dan penuh empati yang sanggup menanamkan nilai-nilai karakter secara mendalam dan bertahan lama.

Melalui pendampingan yang berlandaskan prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang humanis, kehadiran Kadet Unhan di Sekolah Rakyat menjadi harapan baru bagi terciptanya iklim belajar yang inklusif. Dari lingkungan yang aman dan penuh penerimaan inilah, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter kuat, percaya diri, memiliki ketahanan mental, dan siap menyongsong masa depan tanpa dibayangi ketakutan.

 

Penulis: Sifa Assa’ibatul Hamdi | Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 8 = ?
Berita Terkait