Agus Saini Ketua Komite SMPN 1 Kalianda Tolak Mentah-mentah MBG Ala Prasmanan. Tidak Efektif, Ganggu Belajar, Buang-Buang Waktu
nataragung.id - Kalianda - Penolakan keras terhadap wacana Makan Bergizi Gratis (MBG) pola prasmanan di kelas datang dari Agus Saini, Ketua Komite SMPN 1 Kalianda, Lampung Selatan. Agus yang juga merupakan ketua organisasi nelayan menilai kebijakan Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut tidak masuk akal dan justru akan merusak jam belajar siswa.
Agus Saini secara tegas menolak MBG ala prasmanan dengan alasan yang sangat logis. Jumlah murid SMPN 1 Kalianda saja di atas 1000 orang. Jika makan harus prasmanan di dalam kelas, itu tidak efektif.
"Makan ala prasmanan dalam kelas tidak efektif. Mengganggu proses belajar, menghambat guru mengajar, dan akan terjadi antrean panjang. Satu kelas saja bisa habis satu jam pelajaran hanya untuk urusan makan," tegas Agus Saini kepada nataragung Jum'at (9/10/2026).
Agus juga membantah klaim BGN soal makanan lebih hangat. Menurutnya, logikanya sama saja.
"Walaupun kabarnya makanan masih hangat, tapi karena makanan dimasak dini hari, maka saat disaji jam 9-10 pagi pasti akan dingin juga. Jadi apa bedanya dengan ompreng kalau sama-sama dingin? Jangan mengada-ada alasan hangat," cetus Agus.
Ia memberikan solusi yang lebih masuk akal. "Serahkan saja ke sekolah atau kantin sekolah untuk mengelola, atau lebih jujur lagi serahkan langsung uangnya kepada wali murid. Itu lebih tepat sasaran," ujarnya.
Penolakan yang sama juga dilontarkan pengurus Yayasan Al-Khairiyah Kalianda. Alasannya senada, prasmanan di kelas hanya akan menyita waktu belajar dan membuat gaduh sekolah.
Dari Kabupaten Pesawaran, penolakan juga mengemuka. Salah seorang Kepala Sekolah di Pesawaran yang enggan disebutkan namanya menyebut kebijakan BGN terkesan aneh.
"Kebijakan BGN yang terkesan aneh. Banyak membuang waktu belajar mengajar. Sistem ompreng saja sudah banyak membuang waktu, apalagi prasmanan. Kelas jadi seperti warung," kata kepala sekolah tersebut.
Ia juga menyentil alasan BGN soal food waste. "Jika alasan BGN bahwa banyak makanan yang terbuang, jangan salahkan penerima manfaat. Mestinya BGN harus koreksi diri, berarti menu yang disajikan tidak sesuai selera siswa makanya banyak tidak dimakan," tegasnya.
"Karena ini program dari atas, silahkan atur saja dari atas, namun idealnya program tersebut tidak mengorbankan waktu belajar siswa," tambahnya.
Sementara itu, Kepala BGN Sudaryono sebelumnya berdalih bahwa uji coba prasmanan yang dimulai 5 Oktober 2026 di 60 SPPG bertujuan menjaga makanan tetap hangat.
"Per hari ini, dari tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas. Kita harapkan makanannya lebih enak karena hangat-hangat, yang kedua lebih fresh karena tidak ada delay waktu," klaim Sudaryono.
Pernyataan tersebut langsung dibantah para komite dan kepala sekolah di Lamsel dan Pesawaran yang menilai di lapangan tetap akan dingin karena masak sejak dini hari. (SMh)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar